MDINETWORK – Teknologi kecerdasan buatan (AI) sedang mengubah berbagai sektor industri, termasuk di bidang hiburan. Di tengah tantangan anggaran yang semakin ketat, stasiun televisi besar di Korea Selatan mulai memperluas penggunaan AI dalam produksi konten mereka. Ini menandai pergeseran signifikan dalam cara konten hiburan dibuat dan disajikan kepada penonton.
Penggunaan AI untuk Meningkatkan Kualitas Konten
Salah satu contoh penerapan AI adalah di SBS, yang telah mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan teknologi AI dalam program-program hiburan yang akan tayang pada paruh kedua tahun ini. Salah satu aplikasi utama adalah de-aging, yaitu teknik yang memperbaiki penampilan aktor dengan membuat wajah mereka terlihat lebih cerah dan muda. Teknologi ini membantu mempertahankan kesan visual yang konsisten tanpa perlu melakukan proses fisik yang rumit.
Selain itu, SBS juga menggunakan AI untuk menghasilkan footage drone simulasi. Teknologi ini memungkinkan pengambilan gambar dari sudut pandang udara meskipun ada batasan keamanan dan kebisingan di area perkotaan. “Dengan AI, kita bisa menciptakan adegan yang lebih imersif dan dinamis,” ujar seorang pejabat SBS dalam pernyataan resmi.
Efisiensi Produksi Konten
AI juga digunakan untuk mempercepat proses pasca-produksi. Sistem ini dapat secara otomatis menghapus elemen tidak diinginkan seperti alat atau anggota kru dari pengambilan gambar multi-kamera, sehingga menjaga kualitas visual tanpa gangguhan. Selain itu, AI dapat menyalin dan mengatur volume besar dialog aktor menjadi teks, mengurangi beban kerja editing yang melelahkan.
“Teknologi AI bukan alat untuk menggantikan staf produksi, tetapi mitra yang memungkinkan mereka fokus pada kreativitas dan narasi,” kata pejabat SBS. “Kami bertujuan meningkatkan kualitas konten kami dan menciptakan pengalaman menonton yang lebih imersif.”
Program TV Sepenuhnya Dibuat dengan AI
EBS mengambil langkah lebih jauh dengan merancang program sepenuhnya dibuat oleh AI, termasuk para pemeran virtual. Dalam acara “100 Buku yang Mengubah Klasik dan Sejarah melalui AI”, tokoh-tokoh sejarah dan penulis klasik seperti Adam Smith, penulis “The Wealth of Nations,” direkam kembali dengan AI untuk memberikan interpretasi setiap buku klasik. Episode pertama, yang tayang Senin lalu, menampilkan “Odyssey.”
Menurut EBS, produksi serial ini menggunakan sekitar 10 alat AI, termasuk OpenAI, Gemini, dan Claude. Teknologi ini diterapkan seluruhnya, mulai dari ekstraksi teks sumber hingga generasi visual dan audio, penerjemahan, serta penanda metadata. Ahli sejarah dan spesialis AI juga turut berpartisipasi sebagai penasihat.
Efisiensi Biaya dan Tantangan
Efisiensi biaya menjadi salah satu alasan utama di balik penggunaan AI. EBS menyebutkan bahwa program yang sebelumnya membutuhkan anggaran antara 8 juta won hingga 10 juta won per episode bisa turun di bawah 7 juta won dengan adopsi AI. Meski demikian, ada beberapa kekhawatiran tentang kualitas dan regulasi konten yang dihasilkan oleh AI.
Seorang pejabat media mengatakan, “Ini mungkin bentuk lain dari grafis komputer, hanya lebih aksesibel dan hemat biaya.” Namun, ia menambahkan, “Masalah dengan konten AI, terutama di internet, adalah banyak yang diproduksi tanpa cukup pengawasan.”
Regulasi dan Etika di Balik AI
Saat ini, belum ada kerangka kerja etis atau hukum yang komprehensif mengatur penggunaan AI dalam produksi televisi di Korea. Namun, beberapa perusahaan telah mengusulkan aturan sendiri. KBS, penyiar publik nasional, pada Agustus 2025 mendirikan pedoman AI yang menetapkan AI sebagai alat pendukung dalam produksi siaran, memerlukan pengawasan manusia ketat dan mengharuskan pengungkapan penggunaan AI.***












